Pages

Saturday, 11 April 2015

Seruan Jihad bergema dari Masjid di Aden



Aden – Seruan jihad dalam empat hari terakhir hampir setiap hari menggema dari pengeras suara masjid-masjid di kota Aden, Yaman selatan. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan semangat warga Aden mengangkat senjata menghadang pemberontak Syiah Hautsi.

Seruan dari pengeras suara di menara masjid itu memecah keheningan suasana kota.
“Hayya ‘Ala Jihad….Hayya ‘Ala Jihad,” demikian isi seruan tersebut.

“Kalimat itu diserukan di siang hari di masjid-masjid kota Aden. Meski rekaman ini empat atau tiga hari lalu, namun sampai saat ini seruan itu masih dialunkan.

Ia menunjukkan Seruan ini disambut baik oleh warga Aden, Kerana penduduk Di Aden adalah warga Yaman yang paling berani dan pandai siasat perang.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, saat ini terjadi pertempuran sengit antara pemberontak Syiah Hautsi dan pejuang warga Aden. Pertempuran itu bahkan telah mencapai pusat kota sehingga memaksa rakyat tempatan berpindah ke tempat yang aman.

Pemberontak Syiah Hautsi yang didukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh beberapa hari terakhir melancarkan operasi besar-besaran merebut wilayah  itu. Sementara itu, pejuang Aden menegaskan akan melawan Syiah Hautsi. Mereka juga saat ini berkerjasama dengan mujahidin Al-Qaida untuk melawan pemberontak dukungan Iran itu.

Kenali Syiah Houthi

Oleh : Solahuddin al-Idrusi
Jatuhnya ibu kota Yaman, Sana’a, tanggal 21 September 2014 ke tangan militan Syiah Houthi atau Hutsi tentu menjadi perhatian umat Islam dunia, khususnya Arab. Selain itu, peristiwa ini juga kian menjadikan nama kumpulan militan boneka Iran itu ‘membumbung’ di udara. Orang-orang yang sebelumnya belum mengenal mereka, pun menjadi ingin mengetahui siapa mereka sebenarnya.
Tentu saja, jatuhnya sebuah ibu kota negara bukanlah suatu yang remeh dan mudah. Apalagi dilakukan oleh kelompok kecil, tentu mereka sudah memiliki persiapan dan usaha yang panjang untuk melakukannya. Dan tentu saja mereka juga memiliki tujuan yang mereka inginkan. Lalu siapakah mereka? Apa tujuan mereka? Dan siapa yang menbiayai mereka? Mudah-mudahan artikel berikut ini bisa memberikan sedikit gambaran dan jawapan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Munculnya Houthi
map yemen houthiKisah munculnya Syiah Houthi bermula dari sebuah desa atau kota kecil yang bernama Sa’dah. Sebuah kota yang terletak 240 Km di utara ibu kota Sana’a. Di sana terdapat kumpulan terbesar orang-orang Syiah Zaidiyah di Yaman. Pada tahun 1986, dibentuklah di sana sebuah kumpulan untuk mempelajari ajaran-ajaran Syiah Zaidiyah.Kumpulan itu disebut dengan Ittihad asy-Syabab (Persatuan Pemuda). Untuk memperlancar proses pembelajaran di sana, salah seorang ulama Zaidiyah yang bernama Badrudin al-Houthi mendatangkan para pengajar dari berbagai daerah untuk menetap di wilayah Sa’dah.
Pada tahun 1990, Yaman Utara dan Yaman Selatan pun bersatu membentuk negara demokrasi baru yang bernama Republik Yaman. Sistem demokrasi menuntut adanya parti politik dan parlimen. Saat itulah Ittihad asy-Syabab menjelma menjadi parti politik dengan nama baru Parti al-Haq (Hizbul Haq) sebagai penyambung aspirasi Syiah Zaidiyah di Republik Yaman. Dari parti itu juga muncul seorang kadernya yang bernama Husein bin Badruddin al-Houthi, anak dari Badrudin al-Houthi. Ia menjadi seorang politikus yang terkenal dan menjadi anggota parlimen (DPR) Yaman pada 1993-1997 dan 1997-2001.
Seiring perkembangan pemikiran Syiah Zaidiyah di negeri Yaman, muncul lah keretakan hubungan antara Badruddin al-Houthi dengan ulama-ulama Zaidiyah lainnya.Mereka membolehkan para pengikut Syiah Zaidiyah untuk memilih seorang pemimpin atau tokoh agama walaupun bukan dari keturunan Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Badruddin yang merupakan seorang penganut aliran Jarudiyah (salah satu aliran Zaidiyah yang dekat dengan Syiah Itsna Asyariyah) menolak keras fatwa ini. Saat itulah ia mulai cenderung kepada Syiah Itsna Asyariah lalu terang-terangan membela pemikiran tersebut. Tidak hanya itu, ia juga mulai mengkritik pemikiran Syiah Zaidiyah. Karena hal ini, Badruddin pun diasingkan ke Teheran, ibu kota Iran.
Meskipun Badruddin al-Hutsri sudah hijrah ke Teheran, namun pengaruh pemikiran Syiah Itsna Asyariyahnya tetap hidup di Yaman, khususnya di wilayah Sa’dah. Bagaimana tidak, ia adalah seorang tokoh Zaidiyah yang berjasa mengembangkan madzhab tersebut di Yaman dan tentu saja memiliki kesan yang mendalam bagi pengikutnya di sana. Kepergian Badruddin ke Iran bersamaan dengan pengunduran diri Husein bin Badruddin dari Parti al-Haq. Ia membentuk kelompok baru yang pada awal berdirinya hanya bergerak di bidang keagamaan saja. Namun kemudian, kelompok ini bergabung dengan pemerintah melawan Parti Persatuan Yaman yang merupakan perwakilan Ahlussunnah. Pada tahun 2002, kelompok ini memegang posisi menjadi pemerintah.
houthiKelompok Husein al-Houthi pun kian menguat dan berhasil menekan Presiden Ali Abdullah Saleh agar mengeluarkan kebijakan mengembalikan Badruddin al-Houthi ke tanah airnya Yaman. Oleh kerana tidak mengetahui bahaya gerakan Syiah Itsna Asyariyah, Presiden Ali Abdullah Shaleh pun menyetujui kepulangan Badruddin al-Houthi ke tanah Yaman.
Kemasukkan Militan houthi di Sana’a menyebabkan kerugian besar dalam bidang pengajian kerana mereka memburu Masyaikh-Masyaikh di Yaman sehingga Pengajian talaqi dan universiti berkurangan.
Seperti universiti Iman kilang yang melahirkan beribu-ribu ulama’ setiap tahun.Sekarang kilang ini tidak lagi berfungsi menyebabkan Rakyat hilang arah rujukan. Universiti Iman adalah tempat pengajian atau Madrasah yang ‘memadrasahkan’ pejuang lebih tepat ialah pusat gerakan Islam yang mengkaderkan generasi pejuang. Antara jasa universiti Iman adalah mewajibkan semua pelajar ‘mempratikkan’ dan berkhidmat di pelusuk dan diseluruh lorong-lorong di Yaman lantas Mengeluarkan manusia yang jahil kepada berpengetahuan..
جئنا لنخرج الناس من عبادة العباد الى عبادة الواحد القهار
Sebab Kekuatan Houthi
Ada beberapa hal yang menjadikan sekelompok Houthi begitu kuat hingga dapat menggugat pemerintah Yaman.
Pertama: Bantuan Iran. Iran adalah Negara Syiah Itsna ‘Asyariyah yang begitu aktif menyebarkan ideologinya ke seluruh negeri-negeri muslim. Bahkan keinginan kuat itu sudah muncul sejak mula, ketika revolusi Syiah Iran berhasil menumbangkan rejim Syah Pahlevi, Khomeini sang pemimpin revolusi langsung menyatakan melalui siaran radio bahawa revolusi Syiah mereka akan terus menyebar hingga menuju Mekah dan Madinah.
Penulis mendapat khabar dari beberapa relawan Yaman saat terjadi perang di Damaj, bahwa banyak pejuang-pejuang Syiah di sana bertutur dengan Bahasa Parsi dan berpasport Iran. Ertinya, Iran tidak hanya menyumbang logistik perang saja, tapi mereka juga menerjunkan tentera republik mereka untuk membela kepentingan Syiah Houthi dan membela kepentingan Syiah Itsna Asyariyah di dunia Arab.
houthiKedua, sebagaimana kita ketahui, Yaman adalah salah satu negara termiskin dan mundur di kepulauan Arab. Banyak masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Kekeringan adalah pemandangan yang merata di daerah yang dulunya terdapat negeri Saba’, negeri yang subur dan makmur itu. Pembangunannya pun menyedihkan. Bahkan ada seorang perantau yang mengisahkan bahwa tidak ada perbezaan antara bandar Sana’a yang ia tinggalkan belasan tahun yang lalu dengan bandar Sana’a yang ada sekarang. Tidak ada infrastruktur baru dan pembangunan yang membuatnya menjadi berubah.
Houthi berhasil mengangkat isu-isu ekonomi, sosial, dan pembangunan Yaman yang sangat buruk sebagai bukti kegagalan pemerintah dalam membangun negeri nenek moyang bangsa Arab itu. Akhirnya, rakyat pun simpati dengan gerakan seperti ini. Meskipun mereka tidak sepakat secara ideologi.
Ketiga, tribalisme atau budaya kesukuan. Yaman merupakan negara yang masyarakatnya sangat kental dengan kekabilahan. Pengaruh suku dan kabilah masih dijunjung tinggi oleh masyarakat di sana. Syiah Houthi mendapat cukup banyak sokongan dari para ketua kabilah.
Keempat, faktor geografi Yaman. bentuk pergunungan di Yaman cukup menyulitkan bagi tentera pemerintah untuk mengepung Militan Houthi. Mereka menjadikan gunung-gunung dan perbukitan sebagai benteng dan menjadikan gua-gua sebagai tempat persembunyian. Ditambah lagi teknologi tentera yang masih sederhana menambah kebutaan tentera pemerintah untuk memantau persembunyian-persembunyian mereka.
Kelima, Maraknya demonstrasi yang menuntut dis-integrasi Yaman untuk kembali menjadi Yaman Selatan dan Yaman Utara kembali muncul. Bahkan mantan presiden Yaman Selatan, Ali Salim al-Beidh, keluar dari persembunyiannya di Jerman turut memanaskan keadaan dengan menuntut tuntutan serupa. Tentu saja konsentrasi pemerintah terpecah, antara menghadapi oposisi dan separatis Houthi.
Cita-cita Negara Syiah
Sunni-Shia-Map-PEWSejarah mencatat bahwa Syiah pernah begitu cemerlang dengan Kerajaan Fatimiyah. Khususnya Fatimiyah, mereka pernah menguasai seluruh kepulauan Arab, termasuk Mekah dan Madinah. Dan saat ini, Republik Syiah Iran ingin bernostalgia dengan kejayaan masa lalu tersebut. Hal itu mereka wujudkan dengan mengalirkan revolusi Syiah Iran ke berbagai negeri Islam di dunia, khususnya di Arab.
Baru-baru ini, anggota parlimen Iran yang bernama Ali Ridha Zakani mengatakan “Saat ini, tiga ibu kota negara Arab sudah berada di genggaman Iran. Mereka semua mengikuti jejak langkah revolusi Iran”. Ujar anggota parlimen wakil dari Teheran itu, sebagaimana dikutip dari laman website dan surat khabar. Tiga ibu kota yang dimaksud oleh Zakani adalah (1) Beirut, ibu kota Libanon, (2) Damaskus, ibu kota Syria, dan (3) Baghdad, ibu kota Iraq. Kemudian Zakani melanjutkan kenyataannya bahawa apa yang sedang terjadi di Sana’a, Yaman, juga merupakan pengaliran dari revolusi Iran. Di hadapan anggota parlimen, ia menyebut bahawa saat ini Iran sedang menghadapi al-Jihad al-Akbar. Istilah itu ia sebut untuk menamakan proses penyebaran revolusi Iran di negeri Arab atau bahkan di dunia Islam.
Apa yang terjadi di Yaman semakin menguatkan cengkaman Syiah di tanah Arab. Saat ini, Mekah dan Madinah telah dikepung dari sebelah utara ada Irakq kemudian Syria, sebelah timur ada kota-kota Syiah seperti Qatif dan kota-kota di Bahrain serta Kuwait, dan sekarang ditambah Yaman di sebelah Utara. Tentu saja hal ini menjadi perkara serius bagi keamanan Arab Saudi.
Peristiwa ini juga, dapat kita ambil pelajaran untuk negeri kita, Malayisa. Strategi yang dilakukan Syiah untuk menguasai suatu negara, hampir serupa dengan apa yang dilakuan Amerika. Mereka menimbulkan kekacauan, kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk menguasai suatu daerah.

Tuesday, 7 April 2015

Konflik yaman..Siapa menentang siapa?

Miskin tetapi strategik penting, perebutan kuasa di Yaman mempunyai implikasi serius bagi rantau ini dan keselamatan Barat.
yemenJusteru, krisis berterusan pada bumi hikmah itu kini tidak dapat dibendung, menjadi satu konflik bukan sahaja kepada rakyatnya, malah kepada negara serantau dan kini menajdi fokus dunia.
Dalam beberapa bulan kebelakangan Yaman telah berada dalam ‘kancah’ konflik antara beberapa kumpulan yang berbeza, negara itu yang sebelum ini berada ‘di pinggiran perang saudara’, sekarang sudah terjerumus ke dalamnya.
Persengketaan utama adalah antara pasukan yang setia kepada Presiden yang sedang berlindung diluar negara, Abdrabbuh Mansour Hadi, dengan orang-orang yang bersekutu dengan pemberontak syiah Zaidiyah dikenali sebagai Houthi, yang memaksa Hadi melarikan diri Sana’a ibu negara itu ke bandar pelabuhan Aden pada bulan Februari dan kini berlindung di negara Teluk.
Bahkan lebih teruk kini, Yaman menghadapi himpitan dari tentera Pakatan diketuai oleh Arab Saudi, yang mengebom kedudukan Houthi, tetapi rakyat awam turut terpalit.
2000px-Yemen_division_2011-10-23.svgPasukan keselamatan Yaman telah berpecah kesetiaannya, dengan beberapa unit sokongan kepada Hadi, dan lain-lain kepada Houthi serta bekas Presiden Ali Abdullah Saleh, yang kekal berpengaruh dari segi politik.
Hadi disokong di kawasa selatan yang didominasi Sunni, juga dikenali dengan nama militianya sebagai Jawatankuasa Penentangan Popular dan Puak Tempatan (Popular Resistance Committees and local tribesmen).
Manakala Houthi berpangkalan di utara, disebalik sokongan dari dari Sunni Hadi juga menghadapi rintangan dari pecahan al-Qaeda di Semenanjung Arab (al-Qaeda in the Arabian Peninsula – AQAP) di Selatan.
Kedua-duanya Presiden Hadi dan puak Houthi menentang AQAP, yang telah mengadakan beberapa serangan maut dari benteng-benteng di selatan dan tenggara.
Gambaran krisis Yaman adalah lebih rumit, tidak hanya kerana perpecahan rakyat dari segi suku kaum dan sokongan politik kepada tokoh-tokoh bahkan turut dikesan kemunculan kumpulan yang mendakwa bergabung dengan ISIS pada akhir 2014.
siapa yang bersama Arab SaudiKetumbukan militant itu bertujuan untuk menyaingi dan mengurangkan pengaruh AQAP telah turut mendakwa bertanggung jawab pada satu siri pengeboman berani mati di Sanaa pada Mac 2015.
Selepas pasukan pemberontak syiah Houthi tertumpu kepada kubu kuat Presiden Hadi di Aden pada akhir Mac, Pakatan Arab Saudi dan kuncu-kuncunya telah memberi respons kepada permintaan Hadi yang sudah goyang.
Campur tangan dan melancarkan serangan udara ke atas sasaran Houthi. Gabungan itu terdiri daripada negara-negara Teluk Arab Teluk termasuk Jordan, Mesir, Kuwait, Qatar, Bahrain dan UAE.
ia bertambah besar kini dengan sokongan Pakistan di sampan mendapat restu dan bantuan dari Turki dan Maghribi disamping negara-negara barat Amerika Syarikat, United Kingdom, Perancis dan Belgium.

Monday, 6 April 2015

Palestin Dikecewakan, Yaman Diserang

Sudah lebih setengah abad bumi Palestin ditakluk Zionis Yahudi, hingga membolehkan mereka menubuhkan negara haram Israel ke arah menegakkan empayar Yahudi untuk menakluk dunia. Inilah sebenarnya hasrat mereka sebagai satu dongengan yang menjadi cita-cita pelampau Yahudi.
Sejarah juga merakamkan peristiwa kerjasama atas semangat kebangsaan Arab untuk menjatuhkan Khilafah Uthmaniyyah sejak satu abad, tanpa dinafikan kesilapan dan kelemahannya. Di samping itu, kejatuhan khilafah juga adalah menjadi buah catur kerajaan Pahlavi yang mendukung mazhab Syiah Imamiyyah di Iran dan kerajaan Imam di Yaman yang mendukung mazhab Zaidiyyah. Walaupun semuanya berada dalam lipatan sejarah, namun fanatik mazhab dan semangat kebangsaan yang diapi-apikan menjadi senjata musuh untuk menjatuhkan kerajaan Islam secara mengadu domba.
Balasannya ialah Palestin bersama Masjid Al-Aqsa dirampas dan tanah air umat Islam dijajah seluruh pelosok dunia secara langsung atau tidak, semuanya laksana dicucuk hidung. Malangnya lagi apabila hari kejatuhan Khilafah Uthmaniyyah telah menjadi hari kebangsaan bagi kebanyakan negara-negara Arab.
israel flag al-aqsaKini, Islam bangkit semula untuk menyelamatkan dunia daripada bencana tamadun barat yang maju aspek fizikal semata tanpa mempunyai nilai roh nya. Kemajuan persenjataannya telah menjadikan manusia lebih ganas untuk membunuh mengatasi keganasan binatang paling buas, kerana mereka menghasilkan senjata pemusnah yang boleh membunuh berjuta manusia, namun binatang paling buas dan paling ganas tidak semampu itu.
Kemajuan perubatan melampaui batas kepada penyalahgunaan dadah dan candu berbagai jenama yang merosakkan akal. Sepatutnya kemajuan ini berusaha untuk berfikir untuk mencari ilmu bermanfaat, tiba-tiba dirosakkan dengan khayalan yang merosakkan fikiran dan jasad.
Kemajuan pembangunan telah merosakkan alam sekitar dan cuaca dunia sehingga berlakunya fenomena yang menakutkan.
Islam yang mencapai sedikit kedudukan secara demokrasi dihalang mentadbir negara. Kumpulan yang menjuarai kemenangan di Palestin dihalang mentadbir bumi yang luasnya walau hanya sekangkang kera di Gaza. Israel melancarkan serangan ganas ke atas Gaza sehinggakan penduduknya dikepung supaya kebuluran dan menyerah kalah, ramai pula yang gugur dan cedera.
Rasulullah S.A.W. bersabda: “Ada satu kumpulan di kalangan umatku yang menegakkan kebenaran (agamanya) mereka tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang oleh musuh atau kalangan yang mengecewakan mereka, sehingga tibanya urusan Allah (yang menentukan kemenangannya)”. Lalu ditanya;” Siapakah kumpulan itu”. Sabdanya: ”Penduduk Bait Al Maqdis dan sekelilingnya”.
Yang paling mengecewakan ialah negara-negara jiran Arab yang kaya raya. Palestin pada umumnya adalah penganut mazhab Sunni berbangsa Arab dan dibiarkan Selatan Lubnan dibelasah Israel kerana mereka menganut Syiah? Sudah berlalu beberapa tahun dikecewakan.
A man reacts near a burning car at the site of an explosion in the Shi'ite town of HermelTiba-tiba tercetus serangan oleh negara-negara Arab ke atas Yaman, di mana perisytiharannya diumumkan di Washington dan New York dengan kenyataan bahawa tindakan itu dengan persetujuan Amerika dan Presiden Obama. Selepas itu diadakan persidangan kemuncak negara Arab di Syarmu Al Syaekh di Mesir. Mereka memberi alasan kerana Yaman sudah dikuasai pengaruh Iran bermazhab Syiah.
Permulaannya berlaku seminggu sebelum serangan negara Arab ke atas Yaman, Perdana Menteri Israel telah membuat lawatan tanpa jemputan Presiden Barack Obama dan berucap di Perhimpunan Yahudi dan di Kongres AS tanpa Obama. PM Israel menegaskan bahawa sangat bahaya apabila Iran berjaya menguasai Yaman kerana akan membahayakan keselamatan Israel. Maka fatwa berperang menghadapi Syiah di Yaman diapi-apikan.
Marilah kita soroti kembali kepada ucapan Khalifah Umar bin Al Khattab R.A. ketika melawat penyerahan Kota Suci Bait Al-Maqdis kepada Islam di atas permintaan Paderi Besar Bait Al-Maqdis, Umar R.A. menegaskan: “Kita adalah umat yang dimuliakan Allah kerana berpegang dengan Islam. Sekiranya kita meninggalkan Islam nescaya kita menerima hukuman Allah menjadi bangsa yang hina”.
Selepasnya Khalifah Umar R.A. melawat gereja besar Bait Al-Laham. Apabila tiba waktu solat, Saidina Umar bertanya: “Di mana tempat boleh saya bersembahyang?” Paderi Besar menjawab: “Sembahyang dalam gereja ini”. Umar pula menjawab: ”Kalau saya bersembahyang di sini nanti gereja ini  akan dirobohkan oleh generasi kemudian kerana mereka mahu membina masjid di sini”. Akhirnya Umar memilih sembahyang di luar, dan di tempat beliau solat kemudiannya telah dibina sebuah masjid bersebelahan gereja dan menjadi lambang perpaduan Islam dan Kristian untuk menentang kezaliman Zionis di bumi Palestin.
Hujah menyerang Yaman kerana bahaya Syiah sangat memalukan, kerana fatwanya dikeluarkan selepas fatwa Obama dan tauliah daripada Amerika dan sekutunya.
Golongan Syiah dan Khawarij sudah bercampur dalam masyarakat Sunni lebih seribu tahun. Mereka dibenarkan mengerjakan haji dan sebahagiannya berada di tanah suci Makkah tanpa halangan, pengajian mereka dimasukkan ke dalam kitab-kitab Sunni.
yemenZaman keemasan Islam dahulu telah berlakunya perkembangan Islam dengan adanya semua mazhab termasuk mazhab yang terkeluar daripada Islam. Imam Malik menegaskan: “Sekiranya ada seratus hujah, tiba-tiba ada satu sahaja yang menetapkannya bersama Islam, maka hukumkannya bersama Islam”.
Sepatutnya apabila berlaku masalah serantau dikumpulkan negara serantau Arab dan bukan Arab, Sunni, Syiah dan Khawarij duduk dalam satu meja. Persoalannya, di manakah peranan OIC kalau tidak mengatasi masalah seperti ini?
Sangat memalukan negara serantau menjemput bekas penjajahnya datang menjadi imam dan mufti untuk menyelesaikan masalah umat. Lebih memalukan lagi apabila bermesyuarat untuk berperang sesama sendiri.
Sangat memalukan jika peperangan itu kerana menjaga keselamatan Israel dan kepentingan kuasa besar dan berperang kerana menjadi wakil atau proksi mereka. Berperang dengan duit umat Islam untuk membunuh dan mencederakan diri kita sendiri dengan senjata orang lain yang mengambil kesempatan menjual senjata dengan bayaran yang mereka pula menentukan harganya. Inilah akibat daripada kebodohan kita.
Jadilah laksana pepatah bahasa Melayu yang patut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab: “Lesung dan alu yang bertumbuk ayam pula yang kenyang”.
Ingatlah sabda Rasulullah S.A.W.: “Seseorang yang beriman itu tidak seharusnya disengat sebanyak dua kali daripada satu lubang yang sama”.
Cukuplah peristiwa kuasa Barat dan Syaitan Lawrence yang bersejarah hitam menjadi pengajaran kepada dunia Arab dan Islam.
Akhirnya saya mengucapkan kata-kata Nabi Lut yang lemah menghadapi kaumnya yang ganas:
أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ (78) هود.
Tidakkah ada di kalangan kamu seorang yang berakal (boleh berfikir dengan baik). – HARAKAHDAILY 6/4/2015
Datuk Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang
PRESIDEN PAS
17 Jamadil akhir, 1436/ 06 April, 2015

Sunday, 5 April 2015

Perjalanan Misi BALQIS |||

Oleh: Solahuddin Al-Idrus
Krisis di Yaman makin berlarutan dan kini melibatkan campur tangan kuasa-kuasa Luar sehingga menyebabkan pembelajaran sedikit terbantut. Kawasan yang paling terjejas teruk di Aden dan kini angka kematian disana makin meningkat sehingga memaksa semua Warga Malaysia di Yaman pulang ke tanah air menikmati akta zalim Cukai GST yang dilaksanakan baru-baru ini.
IMG-20150405-WA0053Pada 3 April 2015,aku diberi peluang untuk turut sama menyertai misi Ops Balqis 3 iaitu menghantar pulang Warga Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura pulang ke wilayah masing-masing melalui Jalan darat menggunakan bas. Kesemuanya berjumlah sekitar 250 orang.
Bertolak dari Sana’a ke Hudaidah kira-kira jam 6.15 pagi waktu tempatan dengan menaiki 5 buah bas. Seramai 109 orang dari Malaysia,6 orang dari Singapore manakala dari negara Thailand seramai 2 orang dan dari Filipine pula seramai 80 orang.
Misi ini juga disertai oleh Warga  kedutaan Malaysia iaitu seramai 5 orang..Jumlah keseluruhan dari sana’a sekitar 202 orang dan selebihnya sudah menunggu di bandar Hudaidah.
Perjalanan sejauh 279 Km itu cukup memenatkan dan mengambil masa kira-kira 6 jam dari ibu negara,  Sana’a..Sedikit mencabar kerana bas terpaksa melalui kawasan pergunungan merentasi angin sejuk..Ada ketikanya,mata aku dialih memerhatikan bumi yang tandus terbentang itu. Tekun aku melihatnya. Naik turun Gunung dengan struktur jalan yang berlubang dan sempit. Melintasi celahan-celahan Gunung seumpama kumpulan taliban yang diburu musuh. Ada yang pening, ada yang muntah..Maklumlah rombongan ini bukan saja melibatkan anak muda malah kanak-kanak dan perempuan juga turut bersama.
IMG-20150405-WA0055Kepala sekali lagi dialih ke Luar tingkap bas.Kali ini kepulan-kepulan awan disebalik celahan Gunung menjadi pilihan untuk ditatap.
Gegaran break bas menyentak aku,rupanya kami ditahan.Sebelum sampai ke destinasi,hampir 15 Kali kami ditahan dan diperiksa oleh Askar militan Houthi..Itu adalah antara yang kami terpaksa tempuhi. Mereka hanya sekadar menahan dan bertanya..Kadang-kadang ada juga tercuit rasa risau dalam hati, semacam satu ancaman..Syukur semua dipelihara Tuhan dan rombongan tiba sekitar jam 1 Tengah hari.
Dari bandar yang hampir dengan Laut Merah itu,rombongan sepatutnya dijadualkan menaiki penerbangan peribadi ke Dubai tetapi dibatalkan kerana ruang udara Yaman dikawal oleh saudi dan mereka melarang menggunakan ruang udara tersebut.
IMG-20150405-WA0052Pihak Kedutaan Malaysia mengambil keputusan untuk bermalam di Hudaidah sementara mencari jalan untuk keluar dari Bumi Iman itu. Rombongan menginap di hotel yang berdekatan dengan laut merah yang sekitarnya dipenuhi dengan kawanan unta.
Kata sepakat dibuat dan keesokan harinya rombongan seramai hampir 250 orang itu sekali lagi menaiki bas menuju ke Jizan dan seterusnya dijadualkan ke Airport Jeddah. Dari situ akan mengambil penerbangan ke Kuala Lumpur iaitu destinasi terakhir mereka.
Aku terpaksa pulang awal ke wilayah jajahan Militan Syiah Houthi iaitu Sana’a dan tidak dapat bersama menghantar rombongan ke Jizan kerana faktor keselamatan. Pulang dengan perasaan yang bercanpur-baur antara Kecewa dan gembira..Gembira kerana diberi peluang berkhidmat untuk mereka dan sedih kerana terpaksa pulang awal.
Kini aku kembali ke Sana’a bersama teman-teman rumah.Kembali mendengar alunan zikir tembakan dan dentuman antara Saudi dan militan Syiah Houthi.
Jangan lupa titipkan Doa keselamatan buat mereka yang sedang dalam perjalanan pulang ke Malaysia dan juga buat kami yang masih berada di Sana’a dan tidak lupa dirakamkan ucapan Terima kasih yang tidak terhingga kepada pihak Persatuan Pelajar Malaysia Yaman (PERMAYA) dan Pihak Kedutaan Malaysia di Yaman kerana bekerja keras untuk memastikan keselamatan Kami semua.
[Solahuddin al-Idrusi, aktivis media dan wakil Kumpulan Aktivis Media Independen (KAMI) Terengganu di bumi Yaman, masih menetapkan tapak kakinya di bumi hikmah itu, yang kini sedang dilanda fitnah dan dugaan]
" BI RUH...BI DAM "